Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

UNTUK SIAPA AMALMU

Siti Aulia Rahmawati, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Islam Negeri Mataram, Penerima Cendekia BAZNAS 2021.

“Jika kalian berbuat ihsan, maka itu untuk kalian. Dan jika kalian berbuat buruk, itupun untuk kalian juga.” (Al Israa: 7).

Sementara itu, mengutip Tafsir Al-Jalalain, dijelaskan bahwa: “Dan katakanlah kepada mereka manusia berbuatlah sesukamu, karena Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat perbuatan kamu dan kamu akan dikembalikan dengan membangkitkan kamu kembali kepada Allah Yang Maha mengetahui hal gaib dan yang nyata. Maka Allah akan memberitakan kepada kamu apa yang kamu perbuat, kemudian dia akan memberikan pahala atas perbuatan itu

Amal sholeh tidak menguntungkan Allah. Maksiat hamba pun tidak merugikan Allah. Disana ada manusia yang sengaja memaksiati Allah. Ia tak mau shalat. Tidak berpuasa ramadhan. Tidak menunaikan zakat dan infak. Ia menyangka telah merugikan Rabbnya. Padahal, kemaksiatan itu merugikan dirinya sendiri.

Sebaliknya..
Disana ada orang yang bangga dengan ketaatannya. Ia merasa mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Ia memandang telah berjasa kepada Allah. Dengan membela agamaNya. Dengan ketaatan dan amalan shalih. Ia pun menjadi angkuh karenanya. Padahal, kalau bukan karena Allah yang memberinya kekuatan. Tentu ia akan tersesat jalan.

Sahabat,
ketaatan yang menimbulkan keangkuhan, lebih buruk dari pada maksiat yang menimbulkan taubat dan ketundukan..

 Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku".
(Q.S. Ad Dzaariyaat : 56)

Saudaraku.. 
Ibadah adalah konsekuensi sebagai manusia yang memiliki Tuhan / Robb (Allah). Bukan untuk menjadikan kita berbangga diri akan amal sholeh yang dilakukan, apalagi melakukan maksiat yang akan membuat kita semakin jauh kepada Allah.

Tidaklah amalan-amalan yang telah dikerjakan itu merupakan buah dari kehebatan seseorang. Seseorang memiliki jasa atas amalan-amalan yang dikerjakannya. Hanya Allah saja yang mampu menggerakkan seseorang untuk beramal karena taufik yang diberikan-Nya.